Ketika Kesederhanaan Mengajari Kita Menjadi Manusia

Avatar photo
Muhammad Bayanul Lail

DI warung kopi kecil pada sudut kampung halaman, asap rokok pelan-pelan naik ke langit-langit atap warung yang rendah. Kursi kayu bergeser pelan seiring dengan kedatangan teman, gelas-gelas dan sendok beradu menghasilkan suara yang nyaring terdengar seperti musik klasik instrumental yang tak pernah berubah sejak dulu. Menjelang Ramadhan, obrolan di warung kopi selalu punya cerita dan warna yang berbeda, celetukan lebih pelan tapi hangat, lebih jujur, lebih dalam dari pada hari biasanya.

“Puasa itu yang berat bukan laparnya,” kata seorang bapak berkaus oblong hitam, sambil meniup kopi hitam yang masih panas. “Yang berat itu nahan ngomong.” sembari tersenyum bapak itu kemudian menyeruput kopinya dan bergumam sambil menggelengkan kepala “alkamdulillah nikmatnya”.

Teman di depannya tertawa kecil, tapi bukan menertawakan. Tawanya seperti tawa orang yang merasa tersindir. “Iya, kadang malah nahan lapar lebih gampang, tapi jaga mulut itu… astaghfirullah.”

Setiap orang mengangguk pelan. Karena di warung kopi, kebenaran sederhana seperti itu sering terasa lebih bijak daripada ceramah panjang.

Ada yang berbicara tentang kenangan masa kecil, saat puasa terasa seperti tantangan. Ada yang cerita tentang ibunya yang selalu menyiapkan kolak pisang saat berbuka puasa. Ada pula yang hanya diam sambil menikmati kopi, seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Obrolan di warung kopi memang begitu: tidak semua yang duduk ingin bicara, tapi semua ingin merasa ditemani.

“Kalau dipikir-pikir, ya,” lanjut si bapak tadi, sambil menatap ke luar jendela, “puasa itu kayak ngingetin kita kalo hidup ini nggak harus selalu kenyang.”

Seorang pemuda yang baru datang, masih memakai jaket ojek online, ikut menimpali. “Betul, Pak. Kadang pas perut kosong, hati malah terasa lebih penuh.”

Ucapan itu membuat meja itu hening sejenak. Hening yang baik, hening yang membuat orang merasa diperbaiki oleh kata-kata yang sederhana.

Obrolan muter bergeser ke hal lain, tentang marah yang lebih mudah datang ketika lapar, tentang ego yang sering lebih tinggi daripada harga kopi, tentang bagaimana manusia kadang lupa bahwa yang harus ditahan bukan hanya makan, tetapi keinginan-keinginan yang tak pernah selesai.

“Puasa itu, le,” kata seorang kakek sembari menyalakan rokok kretek yang sudah dimasukkan dalam once, “bukan cuma perkara ndak makan dan ndak minum. Tapi perkara mengingat lagi siapa kita ini. Soalnya kalau hidup enak terus, kita bisa lupa kalau kita cuma manusia.” kepulan asap kembali mengudara diiringi senyuman damai pengunjung warung.

Obrolan liar seperti itu sering muncul di warung kopi. Antara rokok, kopi, dan angin yang lewat, kata-kata yang meluncur terkadang lebih jujur dari pada diskusi resmi mana pun. Ada yang tiba-tiba teringat orang yang sudah tiada. Ada yang mengaku rindu sahur bareng keluarga. Ada yang menghela napas panjang pengen bener-bener tobat, membayangkan Ramadhan sebagai kesempatan untuk mulai lagi dari awal karena kesempatan tersebut sangat berharga.

Dan tanpa disadari, obrolan sederhana itu menyingkap satu hal penting, bahwa substansi puasa terkadang justru muncul dari tempat-tempat seperti ini, warung kecil, kursi kayu, senyum teman di seberang meja, dan kesadaran bahwa hidup ini berubah hanya ketika kita berani menundukkan hati.

Ketika kopi mulai dingin, beberapa juga sudah habis diminum, mereka pulang satu per satu. Tidak ada kesimpulan tertulis. Tidak ada catatan kaki. Tapi setiap orang membawa pulang sesuatu. Entah sedikit ketenangan, sedikit niat untuk berubah, atau sekadar rasa hangat bahwa sebelum Ramadhan dimulai, mereka sudah saling menguatkan dalam obrolan sederhana yang tidak direncanakan.

Warung kopi selalu punya cerita berbagai cara menyederhanakan hidup. Dan pada momen menjelang Ramadhan, ia berubah menjadi ruang kontemplasi, tempat manusia mengakui bahwa dirinya rapuh, tetapi sedang belajar menjadi lebih baik. Marhaban ya Ramadhan. (*)

Penulis: Muhammad Bayanul Lail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *