Jepara, Lintasmuria.com – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bandengan, Kabupaten Jepara, diperkirakan hanya mampu menampung sampah selama 3,5 tahun ke depan. Kondisi ini dipicu terus meningkatnya volume sampah yang masuk setiap hari, sementara kapasitas penampungan semakin terbatas.
Kepala UPT TPA Bandengan Rio Hertanto mengatakan, saat ini gunungan sampah di TPA Bandengan telah mencapai sekitar 10 meter. Padahal, batas maksimal ketinggian timbunan sampah di lokasi tersebut adalah 15 meter.
“Prediksi kami, umur TPA Bandengan tinggal 3,5 tahun,” kata Rio, kemarin.
TPA Bandengan yang memiliki luas 7,6 hektare menjadi satu-satunya tempat pembuangan akhir sampah di Kabupaten Jepara. Setiap hari, sampah dari berbagai wilayah di Jepara dibuang ke lokasi tersebut.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara, volume sampah yang masuk mencapai 156 ton per hari. Sementara hasil proyeksi jumlah penduduk Jepara tahun 2026 sebanyak 1.296.364 jiwa menunjukkan potensi timbulan sampah mencapai 479,65 ton per hari.
Komposisi sampah yang masuk ke TPA Bandengan didominasi limbah organik dan sisa makanan sebesar 65 persen. Sampah plastik mencapai 19,4 persen, sedangkan sisanya berupa residu, kain, kertas, kardus, kaca, dan kemasan kosmetik.
Untuk mengurangi beban TPA, Pemkab Jepara mendapat bantuan pembangunan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) dari Kementerian Pekerjaan Umum. Saat ini proyek tersebut masih dalam tahap penyiapan lahan.
“Saat ini masih proses penyiapan lahan,” ujar Rio.
Fasilitas RDF itu nantinya mampu mengolah hingga 100 ton sampah per hari. Sampah nonorganik akan diolah menjadi bahan bakar alternatif industri semen, sedangkan sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos dan berpotensi dikembangkan menjadi maggot.
“Targetnya 2028 tes komisioning,” katanya.
Selain fokus pada pengelolaan sampah, UPT TPA Bandengan juga akan memperhatikan kesehatan para petugas. Saat ini terdapat 45 petugas yang bekerja di lingkungan TPA.
Rio mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Jepara untuk menggelar pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi para petugas.
“Soal kesehatan itu yang juga utama. Ke depan harus ada cek kesehatan berkala. Entah sebulan sekali atau dua bulan sekali. Jadi mereka yang setiap hari bekerja di gunungan sampah, harus terjamin kesehatannya,” pungkasnya. (Red)


















