Dinkes Blora Catat 71 Kasus Kusta, Ada Anak-Anak

Dinkesda Blora Jemput Bola kepada Pasian yang Terkena Penyakit Kusta. (Istimewa)

Blora, Lintasmuria.com – Penyakit kusta masih menjadi perhatian di Kabupaten Blora. Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora mencatat sebanyak 71 kasus baru hingga 16 September 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Blora, Anton Suwoto, mengatakan sebagian besar kasus ditemukan pada kelompok dewasa. Dari total kasus tersebut, sebanyak 69 pasien merupakan orang dewasa, sedangkan dua lainnya merupakan anak-anak.

Anton memastikan seluruh pasien yang telah teridentifikasi sudah mendapatkan penanganan medis dan menjalani pengobatan.

“Dari pasien yang sudah ditemukan semuanya telah menjalani pengobatan,” ujarnya.

Menurutnya, penanganan terhadap pasien kusta dilakukan secara aktif. Petugas kesehatan tidak hanya memberikan obat, tetapi juga melakukan pemantauan untuk memastikan pasien menyelesaikan pengobatan sesuai ketentuan.

Dalam kondisi tertentu, petugas bahkan mendatangi kediaman pasien untuk memastikan pengobatan tetap berjalan. Langkah tersebut dilakukan agar pasien tidak berhenti mengonsumsi obat sebelum masa terapi selesai.

Pengobatan kusta sendiri membutuhkan waktu cukup panjang, yakni sekitar enam hingga sembilan bulan. Seluruh pengobatan bagi pasien diberikan secara gratis.

Anton menyebut kasus kusta masih ditemukan di sejumlah wilayah di Blora dalam lima tahun terakhir. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian Dinkes dalam upaya memutus penularan dan mencegah munculnya kecacatan akibat penyakit tersebut.

“Harapannya 2030 secara nasional sudah tidak ada penyakit kusta,” jelasnya.

Blora juga tercatat sebagai satu-satunya daerah di Jawa Tengah yang memperoleh pendanaan khusus untuk penanganan kusta. Anton menyebut dukungan tersebut berkaitan dengan riwayat kasus kusta di Blora sekaligus upaya penanggulangan yang dilakukan secara aktif.

Di sisi lain, masyarakat diminta tidak menganggap sepele perubahan pada kulit, terutama jika disertai hilangnya rasa. Sebab, gejala awal kusta dapat menyerupai penyakit kulit biasa.

Salah satu tandanya adalah munculnya bercak putih atau kemerahan pada kulit yang mengalami mati rasa. Kondisi tersebut sekilas dapat menyerupai panu, tetapi bagian kulit yang terkena kusta kehilangan kemampuan merasakan sentuhan, panas, dingin, maupun nyeri.

“Biasanya ada bercak, kemudian mati rasa. Kusta tidak terasa,” terangnya.

Jika tidak segera ditangani, bakteri penyebab kusta dapat menyerang saraf tepi. Kondisi ini dapat memicu kesemutan, kelemahan otot, kulit menjadi kering, hingga muncul luka yang tidak terasa sakit.

Pada tahap yang lebih lanjut, kerusakan saraf dapat menyebabkan gangguan pada fungsi tangan, kaki, hingga mata. Karena itu, pemeriksaan sejak munculnya gejala menjadi penting untuk mencegah kondisi berkembang dan menimbulkan kecacatan.

Dinkes Blora mengimbau warga yang menemukan bercak pada kulit disertai mati rasa agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Penemuan kasus sedini mungkin memungkinkan pengobatan dilakukan lebih cepat sekaligus membantu mencegah kecacatan. (Syae)

Exit mobile version