Pati, Lintasmuria.com – Permintaan pentas seni tradisional, khususnya nyinden, mulai meningkat setelah Lebaran. Hal ini dirasakan oleh pesinden muda asal Kabupaten Pati, Yheni Aprilia Susanti, yang mengaku jadwal manggungnya padat dalam beberapa bulan terakhir.
Warga Desa Tambahmulyo, Kecamatan Gabus itu mengatakan, lonjakan pekerjaan mulai terasa sejak memasuki bulan Syawal. Ia hampir setiap hari menerima panggilan tampil, baik untuk acara pernikahan maupun berbagai event lainnya.
“Jadwal mulai banyak ketika Syawal, Besar, dan sebelum puasa kemarin. Banyak orang menikah, berarti banyak job yang masuk juga,” ujarnya.
Yheni menyebut, peningkatan jumlah panggilan manggung mulai terjadi sejak awal 2026, setelah berakhirnya Tahun Dudo. Pada Januari, ia menerima 24 job, kemudian 20 job pada Maret, dan 23 job hingga April berjalan. Sementara itu, Februari sempat mengalami penurunan karena bertepatan dengan Ramadan, dengan total hanya 10 job.
“Sejak Januari mulai ramai. Sebelum puasa, per minggu minimal bisa lima job. Saat puasa hampir tidak ada, lalu masuk lagi saat Syawal,” jelasnya.
Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah tersebut meningkat signifikan. Selama 2025, ia rata-rata hanya menerima dua hingga empat job dalam sepekan. Kini, jadwalnya bahkan bisa terisi penuh dari siang hingga malam, dengan waktu libur yang sangat terbatas.
“Syawal kemarin hampir full, satu bulan hanya libur empat hari,” katanya.
Dalam setiap penampilan, Yheni menerima honor berkisar Rp600 ribu hingga Rp750 ribu, tergantung jarak lokasi acara. Ia kerap tampil tidak hanya di Pati, tetapi juga di sejumlah daerah lain seperti Rembang, Blora, Grobogan, dan Kudus.
Durasi tampilnya berkisar antara tiga hingga lima jam, dengan membawakan empat hingga lima lagu dalam satu kesempatan.
Untuk menjaga kualitas penampilan, Yheni menekankan pentingnya kondisi fisik, teknik vokal, serta penampilan. Menurutnya, teknik nyinden memiliki karakter berbeda dibandingkan genre lain, sehingga membutuhkan kemampuan khusus.
“Yang paling utama teknik vokal. Cengkok nyinden itu berbeda dengan dangdut atau pop. Harus menguasai gending Jawa, cengkok, dan suara nada tinggi. Kalau tidak, bisa terdengar fals,” ujarnya.
Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu juga menyoroti fenomena munculnya pesinden yang tidak menguasai teknik dasar. Ia menilai, profesi pesinden membutuhkan kemampuan yang tidak bisa dilakukan sembarang orang.
“Sekarang banyak yang ‘macak’ sinden, tapi menyanyikan lagu dangdut. Padahal tidak semua orang bisa nyinden dengan benar,” ucapnya.
Meski demikian, Yheni tetap bangga dengan profesinya. Ia menilai generasi muda masih memiliki peran penting dalam melestarikan seni tradisional, termasuk sinden.
“Semoga makin banyak yang benar-benar belajar nyinden, bukan sekadar ikut tren. Seni ini harus terus dilestarikan,” tandasnya. (Red)


















