Blora, Lintasmuria.com – Banjir besar melanda Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Senin (19/5), yang berdampak pada sedikitnya 40 desa di 10 kecamatan. Banjir ini disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah Blora.
Banjir disebabkan oleh meluapnya debit air dari Bengawan Solo dan Sungai Lusi, ditambah dengan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian jagung yang memperparah kondisi. Akibatnya, ratusan rumah warga terendam air.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora, Mulyawati, menyampaikan keprihatinannya atas musibah ini. Ia menyebut bahwa peristiwa ini merupakan banjir terbesar yang pernah terjadi di Blora. “Kami dari BPBD Blora sangat prihatin atas dampak yang dialami masyarakat. Ini adalah kejadian luar biasa dan menjadi banjir terbesar sepanjang sejarah Kabupaten Blora,” ujar Mulyawati.
Menurutnya, wilayah terdampak paling parah berada di Kecamatan Kradenan, khususnya di Desa Mojorembun dan Desa Sumber, dengan total sekitar 800 Kepala Keluarga (KK) terdampak – masing-masing desa sebanyak 400 KK.
Mulyawati juga merinci beberapa titik banjir di seluruh wilayah Blora: Kecamatan Banjarejo: Dukuh Jurangjero, Desa Sidomulyo, Klopoduwur, dan Gedongsari Kecamatan Blora: Desa Ngawetan, Pelem, Jepangrejo, Andongrejo, dan Sendangharjo
Kecamatan Jepon: Desa Nganpon, Jomblang, dan Palon
Kecamatan Kedungtuban: Desa Ninganalan, Gondel
Kecamatan Kradenan: Desa Mojorembun dan Desa Sumber,
Kecamatan Kunduran: Desa Berbak
Kecamatan Ngawen: Desa Talokwohmojo, Sumbersugih,
Kecamatan Randublatung: Desa Wulung
Saat ini, BPBD Blora tengah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk jajaran Polres, Kodim, Pemkab Blora, DPRD, camat, hingga pemerintah desa, untuk melakukan langkah-langkah penanganan dan pembenahan pasca banjir. Rapat koordinasi lanjutan dijadwalkan berlangsung pada pukul 14.00 WIB hari ini. (Syae)
