Bencana Sumatera Berpotensi Terjadi di Grobogan, Ini Penyebabnya

Banjir saat melanda wilayah Grobogan. (Istimewa)

Grobogan, Lintasmuria.com – Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berpotensi terjadi pula di Kabupaten Grobogan. Kondisi geografis Grobogan yang diapit Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan membuat wilayah ini rentan terhadap bencana hidrometeorologi.

Kepala Pelaksana BPBD Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, mengatakan bahwa berdasarkan surat dari Dinas ESDM Jateng, Pegunungan Kendeng Selatan memiliki potensi gerakan tanah. Kawasan rawan itu meliputi Kecamatan Gabus, Kradenan, Pulokulon, Geyer, Toroh, Karangrayung, Kedungjati, hingga Tanggungharjo.

“Walaupun Kendeng Utara tetap kami waspadai,” ujarnya, dikutip dari Murianews, Minggu (7/12/2025).

Zona Kendeng Utara mencakup Kecamatan Klambu, Brati, Grobogan, Tawangharjo, Wirosari, dan Ngaringan. Ancaman meningkat seiring prakiraan BMKG yang menyebutkan curah hujan di Grobogan sepanjang Desember 2025 berada pada kategori sedang hingga tinggi, dengan sifat hujan normal hingga di atas normal.

Kondisi itu memperbesar potensi tanah bergerak dan banjir bandang sebagai bencana susulan.

Wahyu menyampaikan bahwa BPBD telah melakukan langkah mitigasi bahkan sebelum menerima edaran dari ESDM. “Sebelum ada edaran dari Dinas ESDM Jateng, kami sudah melihat adanya potensi itu. Salah satunya di Desa Sedayu (Kecamatan Grobogan),” ujarnya.

Ia mengimbau seluruh desa meningkatkan kewaspadaan. Informasi peringatan dini harus segera diteruskan ke warga, terutama yang tinggal di kawasan rawan. Hujan lebih dari dua jam berturut-turut, menurutnya, bisa memicu gerakan tanah.

Karena itu, desa diminta mengintensifkan pemantauan dan ronda saat hujan turun, serta menyiapkan mitigasi secara konkret.

“Pastikan jalur aman, titik evakuasi sementara, dan sarana prasarana kedaruratan siap digunakan. Bila ada Early Warning System (EWS), mohon dimaksimalkan,” ujarnya.

Wahyu juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah desa, BPBD, TNI-Polri, dan perangkat daerah. “Kami harap koordinasi lapangan diperkuat. Dengan kesiapsiagaan bersama, risiko bencana bisa ditekan,” katanya. (Red)

 

Exit mobile version