Kudus, Lintasmuria.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus bergerak cepat menangani puluhan titik kerusakan tanggul yang memicu banjir di sejumlah wilayah. Upaya penanganan darurat dilakukan agar luapan air tidak semakin meluas dan aktivitas warga bisa segera kembali normal.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko, mengatakan pihaknya telah memetakan seluruh lokasi tanggul yang rusak. Dari pendataan sementara, tercatat puluhan titik membutuhkan penanganan segera, termasuk beberapa yang mengalami kerusakan cukup parah.
“Kami mencatat ada 30 lokasi kerusakan tanggul, baik yang kecil-kecil maupun yang berukuran besar. Sedangkan yang berukuran besar, di antaranya di Desa Golantepus (Kecamatan Mejobo) dengan panjang tanggul yang jebol antara 10-15 meter,” kata Eko Hari Djatmiko.
Kerusakan tanggul tidak hanya terjadi di saluran kecil, tetapi juga di sungai-sungai besar yang selama ini menjadi jalur utama aliran air. Beberapa titik terparah ditemukan di Sungai Piji dan Sungai Dawe.
“Dari puluhan lokasi tanggul jebol, beberapa di antaranya terjadi di aliran sungai besar, seperti Sungai Piji dan Dawe terdapat lima lokasi tanggul jebol,” jelasnya.
Selain jebol, sebagian tanggul juga mengalami longsor. Salah satunya terjadi di kawasan wisata Colo yang sempat mengganggu akses menuju pintu masuk area wisata.
“Longsor juga terjadi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, yang terjadi pada tanggul jembatan menuju pintu masuk Wisata Colo, Desa Colo, Kabupaten Kudus,” ujarnya.
Eko memastikan seluruh titik jebol kini sudah tertangani melalui langkah darurat. Karung plastik berisi tanah uruk digunakan untuk menutup celah tanggul sementara waktu sambil menunggu perbaikan permanen.
Ia mengungkapkan, semua tanggul jebol sudah tertangani, termasuk yang berukuran besar juga ditangani dengan penanganan darurat menggunakan karung plastik berisi tanah uruk.
Penanganan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, Dinas PUPR, relawan Destana, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), hingga partisipasi masyarakat setempat.
Penanganan tanggul jebol, kata dia, selain melibatkan BPBD, Dinas PUPR, Destana, BBWS, hingga masyarakat.
BBWS Pemali Juana turut menurunkan alat berat untuk mempercepat proses perbaikan, terutama di Sungai Dawe yang mengalami jebolan cukup besar.
Sementara itu, Kepala Desa Golantepus, Nuur Taufiq, menyebut banjir telah melanda desanya selama lima hari terakhir. Namun, berkat penanganan cepat, kondisi mulai terkendali.
“Alhamdulillah tanggul jebol yang mengakibatkan warga kebanjiran bisa tertangani segera. Hal ini berkat kerja sama semua pihak, termasuk dari BBWS, BPBD, dan masyarakat yang mendominasi kerja baik memperbaiki tanggul Sungai Dawe yang jebol antara 10-15 meter,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, kejadian jebolnya tanggul pertama kali terjadi pada Kamis (15/1) pagi akibat debit air sungai yang meningkat tajam karena curah hujan tinggi.
Ia mengakui tanggul jebol yang terjadi di Desa Golantepus cukup banyak, pertama kali terjadi pada Kamis (15/1/2026) sekitar pukul 09.00 WIB akibat tingginya debit air sungai yang dipicu curah hujan tinggi.
Total terdapat delapan titik tanggul jebol di wilayah desanya, tersebar di sejumlah aliran sungai.
“Alhamdulillah, berkat dukungan warga yang langsung bergerak cepat bergotong royong, tanggul-tanggul yang jebol bisa ditangani. Total ada delapan lokasi tanggul jebol, baik berukuran kecil maupun sedang,” ujarnya.
Tanggul yang rusak tersebar di Sungai Piji, Sungai Dawe, Sungai Poceho, hingga Sungai Prisen. Ia berharap ke depan ada perbaikan permanen agar kejadian serupa tidak terulang.
Dengan jebolnya tanggul Sungai Dawe, dia berharap, ada perhatian dan perbaikan secara permanen, karena banyak tanggul kritis yang perlu diperbaiki secara permanen, sehingga ketika curah hujan tinggi tidak mudah jebol maupun limpas.
Meski sempat terjadi genangan di beberapa titik, warga masih bertahan di rumah masing-masing. Pemerintah desa juga telah menyiapkan dapur umum sebagai langkah antisipasi.
Meskipun di sejumlah lokasi terdapat genangan banjir, kata dia, warganya belum ada yang mengungsi, terlebih saat ini mulai surut. Sedangkan dapur umum juga disiapkan pemerintah desa untuk antisipasi. (Red)
