Pati, Lintasmuria.com – Suasana berbeda tampak di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Pati pada Rabu (11/2/2026). Jika biasanya siswa membawa buku dan perlengkapan belajar, kali ini mereka justru datang dengan busana adat, perlengkapan karawitan, atribut karnaval, hingga properti khas tradisi desa.
Ratusan siswa kelas XII menggelar pementasan tradisi sedekah bumi sebagai bagian dari penilaian sumatif akhir jenjang. Dalam kegiatan tersebut, para siswa memerankan berbagai tokoh yang biasa terlibat dalam prosesi sedekah bumi, seperti pranatacara, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala desa, seniman, hingga warga.
Kepala SMAN 1 Pati, Wiyarso, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi empat mata pelajaran, yakni Pendidikan Agama, Bahasa Jawa, Pendidikan Kewirausahaan (PKWU), dan Seni Budaya.
“Acara ini ko-kurikuler empat mata pelajaran yang menjadi kolaborasi antara lain Pendidikan Agama, PKWU, Bahasa Jawa, Seni Budaya. Ini salah satu jenis penilaian sumatif akhir jenjang, kalau dulu dinamakan ujian praktik sekolah,” ujarnya kepada awak media.
Mengusung tema Konservasi Budaya dengan subtema Sedekah Bumi, setiap kelas menampilkan tradisi dari desa yang berbeda di Kabupaten Pati. Pada hari pertama tampil enam kelas, dan enam kelas lainnya dijadwalkan tampil keesokan harinya.
“Peserta semua kelas XII dibagi dua hari, ada 6 kelas hari ini, besok Kamis juga 6 kelas. Karena gabungan empat mapel, jadi materinya harus ada Bahasa Jawa semua menuturkan Bahasa Jawa, ada unsur budayanya, ada Pendidikan Agama seperti doa-syukuran dan lain sebagainya, ada PKWU yang siswa-siswi mengenalkan produk khas suatu desa,” jelasnya.
Beberapa desa yang diangkat dalam pementasan antara lain Desa Cabak, Sambirejo, Randukuning, Kropak, Gabus, Kaborongan, dan desa lainnya. Setiap kelas dituntut menyesuaikan detail pertunjukan dengan karakter dan kekhasan desa yang dipilih.
“Sedekah bumi desa maka menampilkan budaya di desa sesuai masing-masing desa yang diangkat. Ketika mengangkat desa A harus menyesuaikan gambaran desa itu,” kata Wiyarso.
Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap siswa semakin memahami dan menghargai tradisi lokal, khususnya sedekah bumi, sehingga kelak dapat berperan aktif dalam pelestariannya di lingkungan masing-masing.
“Harapannya agar anak-anak lebih bisa memahami bahwa ada tradisi yang harus dilestarikan yaitu sedekah bumi, sehingga ketika sudah praktik di desa, mereka bisa menjadi panitia atau penyelenggara. Saya amati anak-anak hebat sekali,” tuturnya.
Antusiasme juga dirasakan para siswa. Salah satunya Balqies Iqa Nur Azizah dari kelas XII F-6 yang mengaku senang dapat terlibat langsung dalam pementasan budaya lokal.
“Seru. Kita nguri-uri budaya, kelas kami mempraktikkan sedekah bumi dari Desa Cabak,” ujarnya.
Balqies bersama 35 teman sekelasnya menyiapkan penampilan dengan sungguh-sungguh, bahkan hingga dini hari.
“Kami ada 36 siswa. Yang paling excited kita persiapan sampai jam 3 pagi,” katanya.
Ia pun mengapresiasi kesempatan yang diberikan sekolah untuk ikut melestarikan budaya daerah. Baginya, keterlibatan generasi muda dalam tradisi lokal menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus bentuk nyata menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (red)
