Blora, Lintasmuria.com – Kabar duka datang dari komunitas Sedulur Sikep di Desa Sambong, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora. Sesepuh Suku Samin setempat, Pramugi Prawiro Widjojo atau yang akrab disapa Mbah Pramugi, meninggal dunia pada Sabtu (21/2/2026) malam di usia 68 tahun akibat kanker prostat.
Keponakan almarhum, Sutono, menuturkan bahwa Mbah Pramugi sebenarnya telah lama mengeluhkan sakit, namun baru terdeteksi secara medis sekitar setahun terakhir.
“Ke rumah sakit setahun lalu dan bahkan bolak-balik untuk kemoterapi ke Semarang di Rumah Sakit Sultan Agung,” ujarnya.
Sebelumnya, Mbah Pramugi sempat menjalani pemeriksaan di rumah sakit di Cepu dengan keluhan vertigo dan asam lambung. Namun karena kondisi tak kunjung membaik, keluarga memutuskan merujuknya ke Semarang. Dari hasil pemeriksaan lanjutan, dokter mendiagnosis Mbah Pramugi mengidap kanker prostat dan menjalani rawat jalan serta kemoterapi.
Sutono menjelaskan, Mbah Pramugi mengembuskan napas terakhir sepulang dari kemoterapi di Semarang.
“Pulang dari rumah sakit sekitar pukul 18.00, kondisinya sudah drop. Mbah Pramugi tidak kuat dan tidak lama kemudian meninggal dunia,” katanya.
Menurutnya, sepekan sebelum wafat, Mbah Pramugi sempat menyampaikan pesan kepada keluarga. Namun saat itu keluarga lebih fokus pada upaya pengobatan.
“Mbah Pramugi bilang ke anaknya, nanti tujuh hari kemudian apabila sudah tidak mau makan, ya seng apik, seng akur (yang rukun dan baik-baik),” ucap Sutono menirukan pesan almarhum.
Bagi masyarakat Sedulur Sikep di Sambong, sosok Mbah Pramugi dikenal sebagai figur yang mengayomi serta konsisten memperjuangkan nilai-nilai ajaran leluhur. Ia dinilai sebagai teladan, baik bagi keluarga maupun masyarakat sekitar.
“Setelah meninggalnya Mbah Pramugi, banyak yang merasa kehilangan. Beliau seorang pemimpin yang mengayomi dan memberi contoh bagi generasi sekarang,” tambahnya.
Almarhum telah dimakamkan pada hari ini secara adat Jawa di Dukuh Blimbing, Desa Sambong, sekitar 400 meter dari kediamannya.
Terkait kepemimpinan komunitas, hingga kini belum ada sosok yang ditunjuk sebagai penerus. Sedulur Sikep akan menggelar musyawarah atau pertemuan selapanan untuk membahas hal tersebut, dengan tetap meminta pendampingan dari Dinas Kebudayaan setempat. (Syae)
