Dana Tak Cair Sejak 2023, Puluhan Nasabah BMT BUS Blora Lapor Polisi

Avatar photo
Korban BMT Buss Menunjukan Daftar nasabah yang melapor ke SPKT Polres Blora. (Rozy/Lintasmuria.com)

Blora, Lintasmuria.com – Puluhan nasabah Koperasi BMT BUS mulai melapor ke polisi setelah dana tabungan dan deposito mereka tak kunjung bisa dicairkan. Koperasi yang berkantor pusat di Lasem, Kabupaten Rembang itu diduga mulai bermasalah sejak 2023.

Salah satu nasabah, Wijianto, yang bekerja sebagai Dokpol Klinik Polres Blora, mengatakan para nasabah mulai kesulitan menarik dana sejak awal 2023. Kondisi tersebut semakin memburuk setelah pihak koperasi menutup buku pada akhir tahun yang sama.

“Waktu itu dijanjikan pengembalian dana maksimal tiga tahun. Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan,” ujarnya.

Menurut Wijianto, korban tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Blora, mulai dari Kecamatan Blora Kota, Randublatung, Cepu, Ngawen, hingga Kunduran. Berdasarkan pendataan sementara, terdapat sekitar 42 nasabah dengan total kerugian mencapai Rp4,22 miliar.

Besaran kerugian tiap korban bervariasi, mulai Rp100 juta hingga lebih dari Rp1 miliar. Dana yang tersimpan berupa tabungan dan deposito.

Wijianto sendiri mengaku mengalami kerugian sebesar Rp1,248 miliar. Dana tersebut disimpan sejak 2022, namun hingga kini belum dapat dicairkan sepenuhnya.

“Pernah ambil hanya Rp500 ribu dari simpanan lebih dari Rp1 miliar pada tahun 2024,” katanya.

Ia menjelaskan, komunikasi terakhir dengan pengurus koperasi terjadi saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Lasem, Rembang, pada 2024. Dalam pertemuan itu, pengurus kembali menjanjikan pengembalian dana dalam kurun waktu tiga tahun. Namun setelah itu para pengurus sulit dihubungi.

“Sekarang sudah lost contact. Kantor-kantor cabangnya juga tidak jelas operasionalnya,” imbuhnya.

Di Kabupaten Blora, kantor cabang BMT BUS diketahui berada di kawasan Cepu, kemudian di Kota Blora tepatnya di samping Laboratorium Patra Medica. Sementara di Kecamatan Ngawen berada di dekat SPBU. Meski bangunan kantor masih ada, aktivitas operasional sudah tidak terlihat.

Para korban juga mulai melaporkan sejumlah nama pengurus yang tercantum dalam akta notaris. Di antaranya Ketua Umum Abdullah Yazid, Ketua I Muhammad Yuson Rusdiono, Zulkifli Lubis, M Fakih Zuhdi, Sekretaris Rahmad, serta Bendahara Muhammad Zuhri.

Para nasabah berharap laporan yang disampaikan ke aparat penegak hukum dapat menjadi jalan keluar agar dana mereka kembali. Mereka juga menyebut kasus serupa diduga terjadi di berbagai daerah lain di Jawa, Bali, hingga Kalimantan.

“Informasinya total ada sekitar 374 ribu nasabah. Minggu ini rata-rata korban mulai melapor di wilayah masing-masing,” tandasnya. (Syae)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *