Wamentan Tanggapi Film Pesta Babi: Cetak Sawah Butuh Proses

Avatar photo
Wamentan Sudaryono. (Istimewa)

Jakarta, Lintasmuria.com – Film dokumenter “Pesta Babi” karya Dandhy Dwi Laksono menjadi sorotan karena mengangkat dampak pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua. Film tersebut menampilkan alih fungsi hutan menjadi perkebunan industri dan menyoroti dampaknya terhadap masyarakat adat.

Dalam dokumenter itu, proyek food estate, perkebunan energi, dan biofuel disebut memicu hilangnya tanah ulayat serta ruang hidup warga adat di Papua. Pemerintah sebelumnya menyatakan proyek tersebut bertujuan memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional.

Menanggapi isu pengembangan lahan pertanian di Papua, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan program cetak sawah membutuhkan proses bertahap sebelum lahan dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Jangan dibayangkan cetak sawah hari ini, lalu besok langsung ditanam dan panen lima ton atau 10 ton. Itu tidak bisa karena membutuhkan beberapa kali siklus,” kata Sudaryono dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, belum lama ini.

Ia menjelaskan pengembangan sawah di Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, dilakukan di lahan rawa yang sebelumnya belum dimanfaatkan sebagai area persawahan. Setelah beberapa tahun pengelolaan, lahan tersebut kini dapat dipanen hingga tiga kali setahun.

Menurut Sudaryono, tantangan utama pengembangan sawah adalah pengelolaan air. Pemerintah, kata dia, dapat menyediakan bibit, pupuk, dan pestisida, tetapi ketersediaan air tetap menjadi faktor utama keberhasilan pertanian.

“Bibit bisa kita ciptakan, pupuk bisa kita siapkan, tetapi air tidak bisa diciptakan. Air hanya bisa dikelola sehingga kami fokus di daerah yang memiliki ketersediaan air,” ujarnya.

Selain membuka lahan baru, pemerintah juga memberikan pelatihan petani, bantuan alat dan mesin pertanian, serta benih unggul untuk meningkatkan hasil produksi.

Sudaryono menegaskan program cetak sawah tetap diperlukan untuk menjaga cadangan pangan nasional di tengah pertumbuhan jumlah penduduk. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *