Blora, Lintasmuria.com – Program bantuan pemerintah berupa pengadaan benih tebu untuk kegiatan bongkar ratoon tahun anggaran 2025 di Kabupaten Blora menyisakan persoalan. Sejumlah petani penerima manfaat mengaku belum menerima pembayaran penuh dari supplier yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut.
Salah satu keluhan disampaikan Mudho, petani tebu asal Desa Balong, Kecamatan Kunduran, yang juga menjabat Ketua Kelompok Tani Sido Makmur. Pada 2025, kelompoknya memperoleh bantuan program bongkar ratoon untuk lahan seluas 7 hektare.
Mudho menjelaskan, pengiriman bibit tebu dilakukan melalui supplier yang bekerja sama dengan CV. Defarro Sembada sebagai rekanan utama program. Pengiriman pertama sebanyak tiga rit diterima tanpa kendala. Namun pada pengiriman berikutnya, dua rit bibit yang dikirim supplier berinisial Nur dinilai tidak memenuhi standar untuk ditanam.
“Karena kualitasnya tidak layak, satu rit kami tolak dan dikembalikan. Akibatnya masih kurang tiga rit bibit untuk kebutuhan lahan,” ujar Mudho.
Untuk menutupi kekurangan tersebut, kata dia, supplier kemudian membeli bibit miliknya sebanyak tiga rit. Namun hingga kini pembayaran atas bibit tersebut belum diselesaikan.
“Uangnya belum dibayar sampai sekarang. Nomornya juga sudah sulit dihubungi,” katanya.
Menurut Mudho, selain bantuan bibit, petani penerima program juga mendapatkan dana Hari Orang Kerja (HOK) sebesar Rp3,6 juta per hektare. Ia berharap program bantuan seperti ini tetap berlanjut karena sangat membantu petani, namun pelaksanaannya perlu diawasi agar tidak menimbulkan persoalan serupa.
Saat dikonfirmasi, Nur mengakui masih memiliki kewajiban pembayaran kepada Mudho. Ia menyebut dana yang seharusnya digunakan untuk membayar bibit telah dipakai untuk keperluan pribadi.
“Iya, memang belum lunas. Uangnya terpakai untuk kebutuhan pribadi,” ujar Nur.
Meski demikian, ia berjanji akan menyelesaikan pembayaran tersebut setelah musim tebang tebu selesai.
“Setelah tebang tebu selesai, akan saya lunasi,” katanya.
Sementara itu, Dedy selaku perwakilan CV. Defarro Sembada menjelaskan bahwa Nur merupakan salah satu supplier yang bekerja sama dengan perusahaan dalam distribusi bibit program bongkar ratoon di Blora.
Menurutnya, seluruh pembayaran dari perusahaan kepada supplier telah diselesaikan. Karena itu, pihak perusahaan mengaku tidak mengetahui adanya persoalan pembayaran yang terjadi di tingkat lapangan.
“Kami sudah menyelesaikan seluruh kewajiban pembayaran kepada supplier. Kami baru mengetahui informasi ini dan akan segera melakukan pengecekan,” kata Dedy.
Ia menegaskan, jika hasil penelusuran membuktikan adanya tunggakan pembayaran kepada petani, perusahaan akan meminta supplier terkait segera menyelesaikan kewajibannya.
Sebagai informasi, pada tahun anggaran 2025 CV. Defarro Sembada menangani proyek bongkar ratoon dan perluasan areal tebu seluas sekitar 750 hektare di Kabupaten Blora. Untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah besar, perusahaan menggandeng sejumlah supplier guna mendukung distribusi kepada petani penerima program. (Syae)
