Puncak Kemarau Belum Tiba, Ribuan Warga Jepara Sudah Krisis Air Bersih

Avatar photo
Kekeringan. (Istimewa)

Jepara, Lintasmuria.com – Ancaman kekeringan di Kabupaten Jepara mulai menjadi kenyataan. Meski puncak musim kemarau diperkirakan baru terjadi pada Juli hingga Agustus 2026, ribuan warga di Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, sudah mengalami krisis air bersih dan bergantung pada bantuan distribusi air.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara mencatat sebanyak 870 kepala keluarga (KK) terdampak kondisi tersebut. Pemerintah Desa Kedungmalang pun telah mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada BPBD.

Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara Bagus Ari Wibowo mengatakan, pihaknya sudah mulai menyalurkan bantuan air bersih selama sepekan terakhir.

“Itu wilayah pelanggan PDAM Jepara. Beberapa hari lalu pihak pemerintah desa Kedungmalang mengajukan surat permohonan dropping air bersih. Kami sudah sepekan ini mengirim air bersih ke sana,” kata Bagus, kemarin.

Menurut dia, krisis air bersih di Kedungmalang sebenarnya terjadi di wilayah yang menjadi pelanggan PDAM Jepara. Namun, gangguan pada armada distribusi membuat BPBD harus turun tangan membantu pemenuhan kebutuhan warga.

BPBD saat ini memfokuskan distribusi air bersih di RW 2 yang meliputi empat RT dengan total 384 KK. Penyaluran dilakukan dua kali dalam sepekan.

“Di wilayah itu kami dropping seminggu dua kali. Sekali dropping kami kirimkan 10 ribu liter air bersih,” ujarnya.

Sementara itu, warga di RW 3 masih mendapatkan bantuan distribusi dari PDAM Jepara. BPBD terus berkoordinasi dengan perusahaan daerah tersebut untuk memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

“Kami terus berkoordinasi dengan PDAM. Karena Kedungmalang itu wilayah pelanggan PDAM,” kata Bagus.

Selain menangani wilayah yang sudah terdampak, BPBD juga mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah daerah yang berpotensi mengalami kekeringan. Untuk mendukung penanganan darurat, pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp32 juta untuk kegiatan dropping air bersih.

Bagus mengatakan, ancaman kekeringan tahun ini perlu diantisipasi lebih serius karena musim kemarau diperkirakan datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Juli-Agustus 2026,” sebutnya.

Berdasarkan pemetaan BPBD Jepara, sejumlah wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan meliputi Desa Clering, Sumberrejo, Bategede, Kedungmalang, Kaliombo, Pule, hingga Karimunjawa. Pemerintah daerah kini terus memantau perkembangan kondisi di wilayah-wilayah tersebut guna mengantisipasi meluasnya krisis air bersih selama musim kemarau. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *