Grobogan, Lintasmuria.com – Viral di media sosial foto siswa SDN Tanggirejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, yang menikmati Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di depan ruang kelas dengan kondisi atap ambrol, memicu respons cepat dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Tengah Sadimin langsung meninjau SDN Tanggirejo pada Kamis (23/7/2026) lalu setelah foto tersebut menjadi perhatian publik. Ia mengaku kunjungan itu dilakukan atas instruksi langsung Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
“Begitu mendapat perintah dari Pak Gubernur, saya langsung turun ke lapangan. Tidak hanya di sini, tetapi juga ke sekolah-sekolah lain yang kondisinya memerlukan perhatian,” ujar Sadimin.
Menurutnya, meskipun pengelolaan sekolah dasar merupakan kewenangan pemerintah kabupaten, Pemprov Jawa Tengah tidak bisa tinggal diam melihat kondisi bangunan sekolah yang membahayakan keselamatan peserta didik.
“Memang ini kewenangan kabupaten, tetapi Pemerintah Provinsi harus hadir. Jangan sampai ada persoalan di Jawa Tengah, lalu kita tidak tahu,” katanya.
Sadimin memastikan Disdik Jateng telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Grobogan dan pemerintah pusat agar revitalisasi SDN Tanggirejo segera direalisasikan. Ia menegaskan, perbaikan sekolah tidak boleh menunggu hingga bangunan roboh.
“Jangan sampai sekolah sudah roboh baru dibangun. Sekolah yang kondisinya mengkhawatirkan harus segera didata dan diusulkan untuk mendapatkan program revitalisasi,” tegasnya.
Ia menyebut proses penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) untuk revitalisasi diperkirakan dapat dilakukan pada pekan depan. Jika berjalan sesuai rencana, anggaran dari pemerintah pusat diharapkan mulai cair pada Agustus sehingga pembangunan bisa segera dimulai.
Meski demikian, Sadimin belum dapat memastikan besaran dana yang akan diterima SDN Tanggirejo dari pemerintah pusat untuk proses revitalisasi.
Selain mengawal proses pembangunan, Pemprov Jawa Tengah juga memberikan bantuan senilai Rp50 juta yang bersumber dari dana Unit Pengumpul Zakat (UPZ). Bantuan tersebut diperuntukkan bagi pengadaan sarana belajar yang rusak, seperti meja, kursi, dan kebutuhan penunjang lainnya.
“Kami memberikan bantuan sekitar Rp50 juta melalui dana UPZ. Harapannya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sarana yang rusak, sehingga proses belajar mengajar tetap berjalan sambil menunggu revitalisasi,” ujarnya.
Peristiwa viral tersebut sekaligus menjadi pengingat masih adanya sekolah dengan kondisi bangunan yang memerlukan penanganan segera. Disdik Jateng pun mendorong seluruh pemerintah daerah melakukan pendataan terhadap sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan agar dapat lebih cepat diusulkan dalam program revitalisasi sebelum membahayakan keselamatan warga sekolah. (Red)


















