Peringatan 10 Safar di Ngemplak Kidul Meriah, Panitia Sayangkan Adanya Sound Horeg

Kirab budaya di Desa Ngemplak Kidul, Pati. (Istimewa)

Pati, Lintasmuria.com – Pemerintah Desa (Pemdes) Ngemplak Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, menggelar peringatan 10 Safar pada Sabtu (25/7/2026) dengan rangkaian kirab budaya yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Sebanyak 22 Rukun Tetangga (RT) ikut ambil bagian dengan menampilkan beragam atraksi seni dan budaya yang menyedot perhatian ribuan warga.

Antusiasme masyarakat begitu tinggi. Warga tidak hanya berasal dari Desa Ngemplak Kidul, tetapi juga dari berbagai daerah di sekitar Kecamatan Margoyoso. Membludaknya penonton bahkan membuat arus lalu lintas di Jalan Pati-Tayu sempat tersendat.

Ketua Panitia Peringatan 10 Safar Desa Ngemplak Kidul, Suharno, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut juga bertepatan dengan Haul Syekh Ronggo Kusumo, tokoh yang dihormati masyarakat setempat sebagai seorang waliyullah.

“Ini kegiatan Hari Ulang Tahun 10 Safar, di dalamnya ada Haul Syekh Ronggo Kusumo. Hari Ulang Tahun 10 Safar diadakan dengan jalan santai yang diadakan pada tanggal 19 Juli dengan diikuti seluruh warga Ngemplak Kidul, ada juga olahraga sepakbola di lapangan. Untuk kirab melibatkan partisipasi seluruh warga Ngemplak Kidul secara mandiri per RT mendatangkan kelompok kebudayaan atau marching band,” ujarnya usai acara.

Selain kirab budaya, peringatan 10 Safar tahun ini juga diisi dengan jalan sehat, turnamen sepak bola, serta pengajian. Seluruh rangkaian kegiatan didukung melalui Pendapatan Asli Desa (PADes) dan swadaya masyarakat.

Sementara itu, agenda religius dipusatkan di kompleks Makam Syekh Ronggo Kusumo pada malam hari. Di lokasi tersebut digelar tahtimul Qur’an, yasin dan tahlil, serta pembacaan manaqib yang ditangani oleh panitia khusus.

“Haul ada panitianya sendiri di makam, ada tahtimul Qur’an, yasin-tahlil, manaqib. Yang kegiatan religius kita bedakan dengan kirab,” jelas Suharno.

Ia menjelaskan tradisi peringatan 10 Safar telah berlangsung turun-temurun di Desa Ngemplak Kidul. Bentuk kegiatannya mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Jika dahulu kirab lebih banyak melibatkan sekolah-sekolah di Kecamatan Margoyoso, kini peserta berasal dari berbagai kelompok seni, termasuk dari luar kecamatan.

“Peringatan ini kegiatan permanen sejak dari dulu sejak saya kecil sudah ada walaupun bentuknya beda. Dulu itu yang ikut kirab undangan sekolah-sekolah se-Margoyoso. Kemudian berkembang sehingga akhirnya seperti ini,” katanya.

Beragam atraksi ditampilkan sepanjang kirab, mulai dari tari tradisional, arak-arakan hasil bumi, kirab budaya lokal, marching band profesional hingga hiburan modern yang menarik perhatian masyarakat.

Meski demikian, Suharno mengaku menyayangkan munculnya sejumlah peserta yang menghadirkan hiburan berupa dangdut keliling dan sound horeg. Menurutnya, hiburan tersebut kurang selaras dengan nilai-nilai religius yang menjadi inti peringatan Haul Syekh Ronggo Kusumo.

“Kita membedakan antara haul dengan kegiatan berbau karnaval. Karnaval kan kegiatan religius tempatnya di makam dengan tahlil, tahtimul Qur’an, manaqib. Kalau karnaval kan jika dikaitkan dengan waliyullah kan kasihan karena nuansa yang ditampilkan seperti dangdut,” ungkapnya.

Ia menambahkan, panitia sebenarnya telah mengajukan izin penyelenggaraan kepada kepolisian untuk kegiatan kirab budaya. Namun, di lapangan muncul sejumlah peserta yang membawa sound horeg dan hiburan dangdut tanpa melalui koordinasi dengan panitia.

“Sebenarnya kami (panitia) menerima pendaftaran mestinya kirab budaya, izin ke kepolisian kirab budaya, tapi ada hal-hal yang tidak izin ke panitia berupa sound horeg, dangdut jalanan. Sebenarnya kegiatannya yang tidak sesuai istilah haul,” pungkasnya.

Exit mobile version