Rembang, Lintasmuria.com – Penerimaan peserta didik baru jenjang sekolah dasar di Sekolah Rakyat Kabupaten Rembang masih jauh dari target. Hingga saat ini, jumlah siswa yang mendaftar baru lima anak dari target 90 siswa atau tiga rombongan belajar.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Kabupaten Rembang, Nurdin Fahrudi, mengatakan banyak calon siswa yang batal melanjutkan pendaftaran karena orang tua belum siap melepas anaknya tinggal di asrama. Sekolah Rakyat memang menerapkan sistem boarding school.
“Waktu itu list tertinggi sempat ada 13 calon siswa, kemudian delapan mundur. Tinggal tersisa lima, soalnya banyak orang tua yang nggak tega. Anak masih kecil-kecil. Jangankan SR, SD reguler saja juga banyak yang kekurangan murid,” kata Nurdin, Rabu (22/7/2026).
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi pada jenjang SMP dan SMA. Menurut Nurdin, kuota peserta didik di kedua jenjang tersebut telah terpenuhi sesuai target, masing-masing sebanyak 90 siswa atau tiga rombongan belajar.
Khusus jenjang SMA, Sekolah Rakyat Rembang juga menerima tambahan 30 siswa dari Kabupaten Blora karena daerah tersebut belum memiliki gedung Sekolah Rakyat.
“Yang SMP clear terpenuhi. Begitu juga SMA tiga kelas, terpenuhi 90 anak. Tambahan 30 dari Kabupaten Blora yang SMA,” ujarnya.
Di sisi lain, pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Rembang juga mengalami penundaan. Semula dijadwalkan pada 14 Juli 2026, namun diundur menjadi 31 Juli karena pembangunan gedung di Desa Kaliombo, Kecamatan Sulang, belum sepenuhnya selesai.
“Pihak pusat berikan sejumlah opsi. Gedung Sekolah Rakyat yang selesai 100 persen, MPLS tanggal 14 Juli. Di Rembang ambil opsi B, MPLS tanggal 31 Juli, sambil menunggu menyelesaikan konstruksi. Calon siswa masih di rumah masing-masing, langsung kita kasih info. Sulit bisa tanggal 14 Juli, soalnya masih ada peralatan, sisa gundukan tanah belum dibersihkan,” tutur Nurdin.
Sekolah Rakyat di Kabupaten Rembang dibangun dengan anggaran sekitar Rp200 miliar. Sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin kategori Desil 1 dan Desil 2 dengan konsep pendidikan berasrama serta dilengkapi berbagai fasilitas penunjang pembelajaran. (Red)

















