Batang, Lintasmuria.com – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menyampaikan apresiasi tinggi kepada para pengrajin Batik di Kabupaten Batang yang gigih melestarikan seni dan budaya daerah, khususnya melalui Batik Tiga Negeri yang kaya nilai sejarah. Pernyataan ini menegaskan dukungannya untuk menyelamatkan warisan budaya yang selama ini kurang mendapat perhatian dibanding batik Lasem, Pekalongan, Yogyakarta, dan Solo, meskipun Batang berbatasan langsung dengan Pekalongan.
“Kami sangat menghargai ketekunan dan komitmen para pengrajin Batang dalam menjaga warisan leluhur, terutama Batik Tiga Negeri yang menjadi identitas khas daerah,” tegas Mohammad Saleh, menyoroti peran penting para perajin sebagai penjaga kebudayaan.
Batik Tiga Negeri adalah mahkota kekayaan Batik Batang yang erat kaitannya dengan Batik Rifa’iyah. Motif legendaris ini merupakan warisan dari Syekh KH Ahmad Rifa’i, seorang ulama kharismatik yang diasingkan ke Sulawesi Utara pada 1880-an. Nama “Tiga Negeri” berasal dari tradisi pewarnaan batik di tiga daerah berbeda: Lasem (merah), Pekalongan (biru), dan Solo (coklat sogan), menghasilkan perpaduan warna yang harmonis dan sarat makna sejarah.
Sejarah membatik di Batang diperkirakan sudah berlangsung sejak era Sultan Agung (1613-1645) atau bahkan masa Kerajaan Majapahit, menjadikan Batik Tiga Negeri bukti seni budaya yang telah berkembang berabad-abad di pesisir utara Jawa.
Mohammad Saleh pun menegaskan dukungan politik di tingkat provinsi untuk memperkuat program revitalisasi, menjamin alokasi sumber daya, dan membuka peluang promosi lebih luas bagi Batik Batang.
Dengan keunikan Batik Tiga Negeri dan teknik “remukan”, serta dukungan dari berbagai pihak, Batik Batang berpeluang bangkit dan menjadi bagian penting dari kekayaan batik Nusantara yang membanggakan. (Red)
