Ribuan Hektare Sawah di Pati Terancam Kekeringan

Avatar photo
Sawah di Pati. (Istimewa)

Pati, Lintasmuria.com – Ribuan hektare tanaman padi di Kabupaten Pati, terdampak kekeringan akibat terbatasnya pasokan air di sepanjang aliran Sungai Silugonggo/Juwana.

Berdasarkan pemantauan Dinas Pertanian Kabupaten Pati hingga 27 Agustus 2026, luas tanaman padi yang terdampak kekeringan mencapai 2.655 hektare.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati Ratri Wijayanto mengatakan, dari luasan tersebut, sebanyak 1.117 hektare telah mendapatkan penanganan melalui penggelontoran air.

Sementara 1.538 hektare tanaman padi lainnya masih membutuhkan pasokan air. Area tersebut tersebar di 21 desa.

“Masih ada 21 desa yang terdampak kekeringan dengan luas tanaman padi 1.538 hektare yang masih membutuhkan penanganan,” kata Ratri.

Kondisi tersebut terjadi karena Bendung Karet Kembang Kempis di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, belum mendapatkan pasokan air yang cukup.

Bendung tersebut selama ini mendapat suplai dari empat sumber, yakni Waduk Kedungombo, Logung, Gunung Rowo, dan Gembong. Namun, pasokan air dari sejumlah waduk belum mampu mengalir hingga bendung secara optimal.

Air banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi di sepanjang aliran sungai. Selain itu, kondisi cuaca ekstrem dan kekeringan turut memengaruhi ketersediaan air.

Pemkab Pati sebelumnya telah meminta BBWS Pemali Juana memperpanjang aliran air irigasi. Permintaan tersebut disampaikan melalui surat pada 30 Juli 2026, ketika luasan tanaman yang terdampak kekeringan diperkirakan mencapai 4.619 hektare.

Upaya penyelamatan tanaman telah dilakukan dengan penggelontoran air sebanyak dua tahap. Tahap pertama dilakukan pada 12 Agustus selama satu hari dan tahap kedua pada 22 Agustus selama dua hari.

Namun, penggelontoran tersebut baru mampu menjangkau delapan desa dengan luas sekitar 1.117 hektare. Sebanyak 21 desa lainnya masih menghadapi kekurangan air.

Pemkab Pati kini mendorong percepatan pembukaan Waduk Kedungombo. Berdasarkan kesepakatan dengan BBWS Pemali Juana, pembukaan waduk dijadwalkan pada 15 September 2026.

Air dari waduk diharapkan dapat dialirkan ke sungai hingga mencapai Bendung Karet Kembang Kempis. Dengan demikian, pasokan air dapat digunakan untuk menyelamatkan tanaman padi di wilayah hilir.

“Kami berharap airnya bisa disalurkan ke sungai terlebih dahulu sehingga bisa sampai ke Bendung Kembang Kempis, sehingga tanaman yang terancam tadi bisa terselamatkan,” ujarnya.

Ratri menyebut rata-rata usia tanaman padi yang terdampak sekitar 30 hari setelah tanam. Sementara varietas padi yang ditanam memiliki masa panen sekitar 80-90 hari.

Artinya, tanaman tersebut masih berada dalam masa kritis dan membutuhkan pasokan air dalam waktu sekitar 20 hari ke depan.

“Kami sudah berusaha bersama teman-teman federasi ataupun Dinas PUPR untuk percepatan pembukaan Waduk Kedungombo. Itu skenario yang bisa kami lakukan karena pengelolaan air bukan kewenangan kami,” katanya.

Ancaman kekeringan juga diperkirakan belum segera berakhir. Berdasarkan informasi BBWS Pemali Juana, persediaan air Waduk Kedungombo diperkirakan hanya cukup untuk mengaliri selama sekitar dua bulan.

Sementara hujan diprediksi baru turun pada akhir November 2026. Karena itu, selain mengandalkan pasokan dari waduk, Pemkab Pati berharap teknologi modifikasi cuaca (TMC) dapat dilakukan untuk membantu menambah ketersediaan air. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *