PATI dikenal sebagai salah satu daerah pesisir yang tak pernah sepi aktivitas nelayan. Setiap hari, kapal-kapal penuh muatan ikan merapat di Pelabuhan Perikanan Bajomulyo Juwana, pusat pendaratan ikan terbesar di Jawa Tengah. Dari sinilah lahir denyut ekonomi ribuan keluarga yang menggantungkan hidup dari laut.
Namun, ada tantangan besar: bagaimana menjadikan melimpahnya ikan ini bukan sekadar komoditas mentah, melainkan produk bernilai tambah? Jawaban itulah yang kini coba dirintis oleh SMK JAPA (Jamaah Pasrah) Dukuhseti melalui pembukaan konsentrasi keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan (APHP).
Sekolah di Pesisir, Peluang Nyata dari Laut
SMK JAPA berdiri di Kecamatan Dukuhseti, pesisir utara Pati. Letaknya hanya selemparan batu dari sumber bahan baku (Juwana) dan pasar tujuan (Pati–Semarang). Kondisi ini membuat sekolah punya modal besar: dekat bahan baku, dekat pasar, dan dekat peluang.
Data menunjukkan, produksi perikanan tangkap di Pati tahun 2023 mencapai 81 ribu ton dengan nilai lebih dari Rp783 miliar. Pasar jelas ada. Pertanyaannya, siapa yang akan mengolah ikan-ikan itu menjadi produk siap santap atau siap masak?
Di sinilah SMK JAPA hadir, bukan hanya mendidik siswa, tapi juga mempersiapkan tenaga terampil yang bisa langsung masuk industri atau bahkan mendirikan usaha sendiri.
Kurikulum yang Terkoneksi dengan Industri
SMK JAPA tidak berjalan sendiri. Program APHP mereka sudah sejalan dengan kebijakan nasional pendidikan vokasi. Ada Kurikulum Merdeka yang memberi ruang pembelajaran kontekstual, ditambah kebijakan Link and Match 8+i yang memastikan sekolah benar-benar nyambung dengan dunia industri.
Artinya, siswa tidak hanya belajar teori. Mereka akan praktik langsung lewat project-based learning, mendapat bimbingan guru tamu dari industri, hingga menjalani magang panjang di Unit Pengolahan Ikan (UPI) maupun UMKM sekitar Juwana.
Lebih menarik lagi, sekolah akan membangun Teaching Factory (TeFa) berupa mini plant pengolahan ikan. Bayangkan, di sekolah sudah ada lini produksi mini yang menghasilkan fillet, abon tongkol, otak-otak, bandeng cabut duri, atau produk frozen yang siap dipasarkan.
Standar Industri: CPPOB, Halal, dan Label Gizi
Sekadar bisa mengolah ikan saja tidak cukup. Industri makanan punya aturan ketat: mulai dari Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), standar keamanan pangan HACCP, kewajiban label gizi, hingga sertifikasi halal yang akan wajib bagi UMK pada 2026.
Karena itu, lulusan APHP SMK JAPA akan dibekali kompetensi ekstra:
• Menguasai sanitasi dan higiene.
• Paham cold chain dan sistem mutu.
• Bisa menyusun dokumen CPPOB.
• Mampu memberi label gizi dan mengurus sertifikasi halal.
Dengan keterampilan itu, mereka bisa langsung bekerja sebagai quality assurance, masuk ke pabrik pengolahan ikan, atau bahkan mendirikan usaha sendiri yang legal dan siap menembus pasar ritel modern maupun digital.
Roadmap Tiga Tahun: Dari Fondasi Hingga Daya Saing
Program ini tidak dibangun secara instan. Ada peta jalan tiga tahun yang sudah disiapkan:
• Tahun Pertama: membangun fondasi. Kurikulum disinkronkan dengan industri, guru diberi pelatihan CPPOB dan halal, serta didirikan mini plant sederhana dengan produk-produk dasar.
• Tahun Kedua: masuk tahap standardisasi. Produk mulai diuji shelf life, dokumentasi CPPOB dilengkapi, siswa menjalani magang panjang, dan produk sekolah mulai didampingi sertifikasi halal.
• Tahun Ketiga: fokus pada hilirisasi dan daya saing. Produk diversifikasi, packaging modern digunakan, jejaring pasar diperluas hingga digital, serta riset kecil dilakukan untuk mengurangi food loss dan memanfaatkan hasil samping ikan.
Targetnya jelas: minimal 80% siswa lulus uji kompetensi, satu produk TeFa bersertifikat halal, dan 75% lulusan terserap kerja, berwirausaha, atau melanjutkan studi dalam enam bulan setelah kelulusan.
Tantangan dan Cara Mengatasinya
Tentu jalan ini tidak mulus tanpa tantangan. Ada tiga risiko utama:
• Fluktuasi pasokan ikan akibat musim. Solusinya, kontrak fleksibel dengan pedagang dan pembangunan stok beku.
• Kepatuhan regulasi yang rumit. Diatasi dengan checklist compliance, pelatihan rutin, dan pendampingan BPOM serta LPH.
• Kesiapan SDM guru dan siswa. Dijawab dengan upskilling guru di industri, team teaching bersama praktisi, serta penerapan micro credential bagi siswa.
Menjahit Mimpi di Pesisir
Melimpahnya ikan di Pati bukan sekadar cerita tentang nelayan dan pelelangan. Jika dikelola dengan benar, laut bisa menjadi “sekolah” yang mencetak wirausahawan muda.
SMK JAPA Dukuhseti sedang mencoba menjahit mimpi itu. Dengan dukungan kurikulum yang tepat, kemitraan industri, serta mini plant pengolahan yang compliant, sekolah ini berpeluang melahirkan generasi muda yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu membuka usaha formal di rantai nilai pengolahan ikan Pati.
Singkatnya, SMK JAPA sedang berlayar menuju masa depan di mana siswa-siswinya bukan hanya menonton kapal merapat di Juwana, melainkan menjadi bagian penting dari industri perikanan yang semakin berdaya saing. (*)
Penulis: Agus Mahfud, S.Pd., M.Pd. (Kepala Sekolah SMK JAPA)


















