Semarang, Lintasmuria.com – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meresmikan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu dan Terintegrasi (TPSTT) Bumi Hijau di Desa Tersono, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang, pada Senin (6/10/2025). Peresmian ini menandai langkah maju Desa Tersono sebagai salah satu contoh nyata desa mandiri dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh mengapresiasi inisiatif Desa Tersono yang dinilainya mampu menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di provinsi ini. Ia menyebut keberhasilan Tersono membuktikan bahwa solusi persoalan sampah bisa lahir dari semangat gotong royong masyarakat.
“Desa Tersono telah menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus bergantung pada pemerintah kabupaten atau provinsi. Dengan semangat gotong royong dan kesadaran lingkungan, masyarakat mampu mandiri dan menghasilkan manfaat ekonomi dari sampah,” ujar Saleh, Selasa (7/10/2025).
Menurutnya, persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah, terutama di tingkat pedesaan yang belum memiliki sistem pengelolaan terstruktur. Namun, inovasi lokal yang dilakukan masyarakat Tersono dinilai menjadi bukti bahwa kemandirian dan partisipasi warga dapat menjadi solusi nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Saleh menegaskan bahwa DPRD Jawa Tengah akan mendorong pemerintah provinsi memberikan dukungan lebih besar terhadap program pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Bentuk dukungan itu antara lain pelatihan, bantuan peralatan, serta akses pendanaan melalui dana desa dan program lingkungan hidup.
“Kami ingin gerakan seperti di Tersono menular ke desa lain. Kalau setiap desa bisa mandiri mengelola sampahnya, bukan hanya lingkungan menjadi bersih, tetapi juga tercipta lapangan kerja dan ekonomi sirkular yang bermanfaat bagi warga,” tegasnya.
Ia berharap keberhasilan Desa Tersono menjadi inspirasi bagi seluruh daerah di Jawa Tengah untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan mandiri.
Sementara itu, Kepala Desa Tersono Abdul Mukti menjelaskan bahwa program pengelolaan sampah ini sudah berjalan selama dua hingga tiga bulan. Warga dilibatkan secara langsung dalam proses pemilahan dan pengumpulan sampah dari rumah masing-masing.
“Setiap rumah iuran Rp15.000 per bulan. Petugas mengambil sampah dua kali seminggu. Sosialisasinya dibantu mahasiswa KKN juga, jadi masyarakat mulai terbiasa memilah sampah organik dan anorganik,” ujarnya.
Sampah organik, lanjut Mukti, diolah menjadi pakan maggot dan pupuk alami, sedangkan sampah plastik dikirim untuk didaur ulang. Ia menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan program ini adalah kemauan dan partisipasi warga untuk mengelola sampah secara mandiri.
Sebagai informasi, TPSTT Bumi Hijau berdiri di atas lahan seluas 7.000 meter persegi dan melayani tujuh desa di Kecamatan Tersono serta tiga pasar utama, yaitu Pasar Tersono, Limpung, dan Bawang. Dalam pengelolaannya, sampah organik diolah menjadi pakan maggot dan pupuk kompos dalam waktu 12–15 hari, sedangkan sampah plastik dihancurkan menggunakan incinerator mini berbasis teknologi hidrogen yang hemat bahan bakar. (Adv)
