FASI Jatim Ungkap Penyebab Pesawat PK-S 360 Mendarat Darurat di Blora

Avatar photo
Pesawat jatuh dan terbakar di Blora. (Istimewa)

Blora, Lintasmuria.com – Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Jawa Timur memastikan pesawat swayasa bermotor dengan registrasi PK-S 360 melakukan pendaratan darurat di Desa Sarimulyo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, setelah mengalami kehilangan tenaga mesin.

Ketua Umum FASI Jatim sekaligus Komandan Lanud Abdulrachman Saleh, Marsma TNI Reza R.R. Sastranegara, mengatakan pesawat tersebut merupakan pesawat binaan FASI Jatim yang sedang dalam perjalanan menuju homebase di Malang.

Sebelum insiden terjadi, pesawat PK-S 360 mengikuti kegiatan Pangandaran Air Show. Pesawat kemudian terbang menuju Lanud Adisutjipto Yogyakarta untuk selanjutnya melanjutkan penerbangan ke Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.

Reza mengatakan kondisi pesawat masih dinyatakan baik setelah tiba di Adisutjipto. Pemeriksaan juga telah dilakukan sebelum pesawat kembali diterbangkan.

“Pesawat sebelumnya dalam kondisi baik setelah mendarat di Adisutjipto. Setelah dilakukan pengecekan, pesawat kembali dinyatakan siap terbang dan kemudian lepas landas pada pukul 12.07 WIB,” ujarnya.

Pesawat tersebut semula diperkirakan tiba di Malang sekitar pukul 15.42 WIB. Namun, dalam perjalanan, FASI Jatim menerima laporan pada pukul 13.27 WIB bahwa pesawat melakukan pendaratan darurat di wilayah Kecamatan Ngawen, Blora.

Menurut Reza, kru memutuskan melakukan pendaratan darurat setelah mesin kehilangan tenaga atau mengalami loss power. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari prosedur keselamatan penerbangan.

“Karena terjadi gangguan mesin yang mengakibatkan kehilangan tenaga, kru kemudian menjalankan prosedur pendaratan darurat sesuai checklist yang berlaku,” jelasnya.

Pendaratan darurat berlangsung aman. Dua kru pesawat, yakni Dhony Vasmin dan Ignatius Andreas, selamat dan tidak mengalami cedera serius.

Setelah kejadian, keduanya menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Ngawen.

FASI Jatim kini melakukan pengumpulan data dan pemeriksaan terhadap pesawat untuk mencari penyebab gangguan mesin. Hasil pemeriksaan akan menjadi bahan evaluasi terhadap aspek keselamatan penerbangan.

“Hasil pemeriksaan nantinya akan dianalisis untuk mengetahui penyebab kerusakan. Ini penting sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang,” tandasnya. (Syae)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *