Jepara, Lintasmuria.com – Momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) biasanya menjadi periode ramai kunjungan wisatawan ke Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Namun tahun ini, para pelaku wisata memprediksi kondisi berbeda.
Ketua Paguyuban Biro Wisata Karimunjawa (PBWK), Sudarmono, memperkirakan jumlah wisatawan yang datang justru tidak akan banyak karena wilayah Karimunjawa telah memasuki musim baratan yang identik dengan cuaca buruk.
“Sudah seminggu ini hujan terus. Angin (kencang) sudah mulai keluar. Baratan sudah mulai,” kata Sudarmono, dikutip dari Murianews, Jumat (12/12/2025).
Ia menjelaskan, musim baratan biasanya berlangsung sejak Desember hingga Februari. Pada periode ini, kondisi cuaca sangat sulit diprediksi.
“Kadang cuacanya bagus. Tiba-tiba buruk, ombaknya besar, kapalnya tak bisa menyeberang,” jelasnya.
Menurut Sudarmono, pemberitaan mengenai musim baratan setiap menjelang Nataru sudah menjadi semacam “branding” yang membuat calon wisatawan memilih menunda atau membatalkan rencana berlibur ke Karimunjawa.
Bagi para pelaku wisata, momen Nataru menjadi masa yang penuh spekulasi. Ketidakpastian cuaca membuat mereka harus berhati-hati, terutama terkait uang muka (DP) pemesanan paket wisata.
“Kami lebih waspada, untuk DP (uang muka) tidak minta banyak-banyak. Khawatirnya nanti cuaca buruk, wisatawan enggak jadi datang, kan, kita harus refaund. Kami lebih mengantisipasi itu,” ujarnya.
Hingga kini, jumlah pemesanan kunjungan masih sangat sedikit, dan sebagian besar berasal dari wisatawan lokal. Kepada mereka yang tetap ingin datang, para pelaku wisata memberikan edukasi tentang kemungkinan risiko selama musim baratan.
“Prinsipnya, kami beri banyak catatan dan edukasi kepada calon wisatawan. Kami kembalikan lagi keputusannya kepada mereka. Kalau ada yang tetap ingin datang, kami persilahkan. Tapi harus bisa memahami konsekuensinya,” pungkasnya. (Red)
