BLORA, Lintasmuria.com – Musim kemarau membawa berkah bagi sebagian warga Desa Blungun, Kecamatan Jepon. Saat sebagian lahan mulai mengering, aktivitas mencari dan mengumpulkan lempuyang kembali ramai dilakukan warga untuk menambah penghasilan.
Karjan, salah satu petani sekaligus pengepul lempuyang asal Desa Blungun, mengatakan usaha rempah tersebut sudah ia jalani selama enam tahun. Lempuyang yang dikumpulkan berasal dari petani sekitar maupun warga yang mencari langsung di kawasan hutan.
“Sebagian saya ambil dari petani warga sekitar, ada juga warga yang mencari sendiri dari hutan,” ujar Karjan.
Ia menjelaskan, harga lempuyang berbeda antara kondisi basah dan kering. Untuk lempuyang basah dihargai sekitar Rp1.500 per kilogram, sedangkan setelah melalui proses pengeringan bisa mencapai Rp9.000 per kilogram.
Dalam sepekan, Karjan rata-rata mengirim sekitar empat kuintal lempuyang, baik dalam bentuk basah maupun kering. Dari pengiriman tersebut, omzet yang diperoleh mencapai sekitar Rp2,8 juta per minggu.
Namun, usaha tersebut tidak bisa berjalan sepanjang tahun. Karjan menyebut musim kemarau menjadi waktu terbaik karena kualitas lempuyang lebih baik dan lebih mudah ditemukan.
“Kalau musim hujan biasanya berhenti, karena banyak risiko terkena jamur. Selain itu di hutan juga sulit terlihat karena banyak tanaman,” jelasnya.
Menurutnya, pasokan lempuyang juga bergantung pada hasil pencarian warga. Dalam seminggu pengambilan biasanya dilakukan dua kali, menyesuaikan jumlah yang berhasil dikumpulkan para pencari.
Meski hanya musiman, Karjan tetap mempertahankan usaha tersebut karena mampu memberikan tambahan pendapatan bagi dirinya maupun warga sekitar yang ikut mencari lempuyang.(Syae)
