Penyiapan Lahan Kampus UNY Blora Capai 65,7 Persen, Anggaran Rp1,8 Miliar

Penyiapan lahan kampus UNY di Blora. (Istimewa)

Blora, Lintasmuria.com – Proses pembangunan kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Kabupaten Blora mulai menunjukkan perkembangan signifikan. Pekerjaan tahap awal berupa penyiapan lahan telah mencapai 65,7 persen hingga akhir minggu ketiga pelaksanaan.

Capaian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan progres yang ditargetkan dalam rencana kerja. Pada periode yang sama, progres pekerjaan seharusnya baru berada di kisaran 9,6 persen.

Konsultan Pengawas proyek, Sudibyo, menyebut pelaksanaan pekerjaan sejauh ini berjalan tanpa kendala berarti. Bahkan, percepatan pekerjaan menghasilkan deviasi positif sekitar 57 persen dari target yang ditetapkan.

“Kontraknya 62 hari dan sekarang sudah masuk minggu keempat. Akhir minggu ketiga progresnya 65,7 persen, sedangkan rencana baru 9,6 persen. Jadi cukup jauh di atas target,” ujarnya.

Pekerjaan penyiapan lahan ini mencakup sejumlah kegiatan, mulai dari pekerjaan timbunan hingga pondasi. Lahan yang tengah disiapkan memiliki luas sekitar 7.200 meter persegi, dengan kebutuhan material timbunan mencapai kurang lebih 7.474,8 meter kubik.

Material yang digunakan berupa grosok atau agregat yang setara dengan material kelas B. Bahan timbunan tersebut didatangkan dari wilayah Kabupaten Rembang dan penggunaannya telah memperoleh persetujuan dari pemilik pekerjaan.

Nilai kontrak untuk pekerjaan penyiapan lahan tersebut mencapai sekitar Rp1,8 miliar.

Menurut Sudibyo, tingginya progres pekerjaan tidak terlepas dari dominannya pekerjaan timbunan. Ketersediaan material yang didukung jumlah armada pengangkut membuat proses distribusi material ke lokasi berlangsung cepat.

“Item utamanya memang timbunan. Ketika material tersedia, armada pengangkut juga bisa langsung bergabung sehingga pekerjaan di lapangan lebih cepat,” jelasnya.

Meski pekerjaan berjalan dengan percepatan, aspek kualitas tetap menjadi bagian penting dalam pengawasan. Material timbunan tidak langsung ditumpuk dalam satu lapisan tebal, melainkan dikerjakan secara bertahap.

Setiap lapisan memiliki ketebalan sekitar 30 hingga 50 sentimeter. Setelah ditimbun, material kemudian dipadatkan dan dilakukan pengujian untuk memastikan tingkat kepadatannya sesuai dengan spesifikasi pekerjaan.

Pengujian tersebut melibatkan tim laboratorium UNY. Dari hasil pemeriksaan sementara, material yang digunakan serta tingkat kepadatannya dinyatakan memenuhi ketentuan. Bahkan, beberapa hasil pengujian disebut berada di atas standar yang dipersyaratkan.

“Setiap layer dipadatkan kemudian dites. Hasil pengujian dari Lab UNY semuanya memenuhi, bahkan ada yang di atas spesifikasi,” terang Sudibyo.

Ia memastikan pengawasan terhadap material dilakukan sejak awal. Bahan yang tidak memenuhi persyaratan tidak akan digunakan dalam pekerjaan.

“Kalau material urukan tidak sesuai spesifikasi, pasti kami tolak,” tegasnya.

Untuk material hasil galian pondasi, pihak pelaksana tidak menggunakannya kembali sebagai bahan timbunan. Material tersebut hanya diratakan di sekitar lokasi pekerjaan.

Sampai memasuki minggu keempat, belum ditemukan material timbunan yang berbeda dari pengajuan maupun spesifikasi yang telah disetujui. Pengawasan akan tetap dilakukan hingga seluruh pekerjaan penyiapan lahan selesai dan memenuhi standar yang ditentukan. (Syae)

Exit mobile version